Sosok
Anies Baswendan yang ditunjuk Presiden Jokowi sebagai Menteri Kebudayaan dan
Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikbuddasmen) dalam 'Kabinet Kerja' yang diumumkan, Minggu (26/10),
memberikan harapan pendidikan Indonesia mengalami masa keemasan.
Dengan
berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri yang diraih oleh Rektor
Universitas Paramadina tersebut, besar ekspektasi untuk melakukan terobosan
melakukan revolusi kurikulum termasuk didalamnya pendidikan anti korupsi dan revolusi mental.
Dikutip
dari Wikipedia, Anies Rasyid Baswedan, lahir di Kuningan, Jawa Barat, 7
Mei 1969. Cucu dari pejuang kemerdekaan, Abdurrahman Baswendan, ini menginisiasi
gerakan Indonesia Mengajar. Ia menjadi rektor termuda pada tahun 2007 saat
dilantik menjadi Rektor Universitas Paramadina.
Orang
tuanya berasal dari kalangan akademis. Ayahnya, Drs. Rasyid Baswedan, dosen di
Fakultas Ekonomi. Sementara, ibunya, Prof. Dr. Aliyah Rasyid, M.Pd. guru besar
Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi, Universitas Negeri Yogyakarta.
Pada tanggal 11 Mei 1996, Anies menikah dengan Fery Farhati Ganis, sarjana psikologi dari Universitas Gadjah Mada. Isterinya merupakan alumni magister Northern Illinois University bidang Parenting Education. Anies dikaruniai empat orang anak: Mutiara Annisa, Mikail Azizi, Kaisar Hakam dan Ismail Hakim.
Anies
mengenyam bangku sekolah pada usia 5 tahun di TK Masjid Syuhada. Menginjak usia
enam tahun, Anies masuk ke SD Laboratori, Yogyakarta. Setelah lulus SD, Anies
diterima di SMP Negeri 5 Yogyakarta.
Lulus
SMP, Anies menempuh pendidikan di SMA Negeri 2 Yogyakarta. Anies pernah menjadi
Ketua OSIS se-Indonesia pada tahun 1985. Pada tahun 1987, ia mengikuti program
pertukaran pelajar AFS dan tinggal selama setahun di Milwaukee, Wisconsin,
Amerika Serikat.
Sekembalinya
ke Yogyakarta, Anies bergabung dengan program Tanah Merdeka di TVRI
cabang Yogyakarta, dan mendapat peran sebagai pewawancara tetap tokoh-tokoh
nasional.
Anies
diterima di Fakultas Ekonomi,Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Anies
menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa dan ikut membidani kelahiran kembali
Senat Mahasiswa UGM setelah pembekuan oleh Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan.
Pada 1992, Anies membentuk Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sebagai lembaga eksekutif memosisikan senat sebagai lembaga legislatif yang disahkan oleh kongres pada tahun 1993. Masa kepemimpinannya, ditandai dengan gerakan berbasis riset, sebuah tanggapan atas tereksposnya kasus BPPC yang menyangkut putra Presiden Soeharto, Hutomo Mandala Putra.
Anies
turut menginisiasi demonstrasi melawan penerapan Sistem Dana Sosial Berhadiah pada
November 1993 di Yogyakarta. Pada tahun 1993,
Anies mendapat beasiswa dari JAL Foundation untuk mengikuti kuliah musim panas
di Sophia University, Tokyo dalam bidang kajian Asia. Beasiswa ini ia
dapatkan, setelah memenangkan sebuah lomba menulis mengenai lingkungan.
Setelah
lulus kuliah, Anies bekerja di Pusat Antar Universitas Studi Ekonomi UGM,
sebelum mendapat beasiswa Fulbright dari AMINEF untuk melanjutkan kuliah
masternya dalam bidang keamanan internasional dan kebijakan ekonomi di School
of Public Affairs, University of Maryland, College Park pada tahun 1997.
Ia juga dianugerahi William P. Cole III Fellow di universitasnya, dan lulus pada bulan Desember 1998. Pada tahun 1999, setelah setelah lulus dari Maryland, Anies kembali kuliah dengan beasiswa dalam bidang ilmu politik di Northern Illionis University.
Saat
itu, ia bekerja sebagai asisten peneliti di kantor Office of Research, Evaluation, and Policy Studies di kampusnya. Disertasinya
doktoralnya yang berjudul Refional
Autonomu and Patterns of Democracy in Indonesia menginvestigasi efek
dari kebijakan desentralisasi terhadap daya respon dan transparansi pemerintah
daerah serta partisipasi publik, menggunakan data survei dari 177 kabupaten/
kota di Indonesia. Dia lulus pada tahun 2005.
Selesai
mengambil kuliah doktor pada 2004, karena tidak memiliki uang untuk kembali ke
tanah air, Anies sempat bekerja sebagai manajer riset di IPC, Inc. Chicago,
sebuah asosiasi perusahaan elektronik sedunia. Kecintaannya pada tanah air
membuatnya kembali ke Indonesia.
Ia
kemudian bergabung dengan Kemitraan untuk Reformasi Tata Kelola Pemerintahan;
sebuah lembaga non-profit yang fokus dengan reformasi birokrasi di wilayah
Indonesia dengan menekankan kerjasama antara pemerintah dengan sektor sipil.
Ia
kemudian menjadi direktur riset The Indonesian Institute. Ini merupakan lembaga
penelitian kebijakan publik yang didirikan pada Oktober 2004 oleh aktivis dan
intelektual muda yang dinamis. Kariernya di The Indonesian Institute tentu tak
lepas dari latar belakang pendidikannya di bidang kebijakan publik.
Pada 15 Mei 2007, Anies Baswedan dilantik menjadi Rektor Universitas Paramdina menggantikan cendekiawan Muslim yang juga pendiri unversitas tersebut, Nurcholish Madjid atau Cak Nur. Anies menggagas rekrutmen anak-anak terbaik Indonesia dengan program Paramadina Fellowship atau beasiswa Paramadina. Beasiswa itu meliputi biaya kuliah, buku, dan biaya hidup.
Gebrakan
lain yang dilakukan oleh Anies Baswedan adalah pengajaran anti korupsi di
bangku kuliah. Hal ini didasari karena Anies menganggap bahwa salah satu
persoalan bangsa ini adalah praktek korupsi. Karena itu ia berinisiatif membuat
mata kuliah wajib anti korupsi yang
berisi kerangka teoritis sampai membuat laporan investigatif tentang
praktik korupsi.
Anies
Baswedan mendirikan Gerakan ‘TurunTangan’ sebagai sebuah ikhtiar mengajak semua
orang terlibat melunasi janji kemerdekaan. ‘TurunTangan’ mengajak semua orang
untuk ikut terlibat mengurus negeri ini dengan mendorong orang baik mengelola
pemerintahan.
Gerakan
ini didirikan Anies pada Agustus 2013 dengan semangat gerakan kerelawanan tanpa
bayaran. Sampai Juli 2014, relawan yang berhasil dikumpulkan sebanyak 35.000
lebih relawan.
'TurunTangan' banyak bergerak di kegiatan sosial politik. Gerakan ini mendorong anak-anak muda di seluruh Indonesia untuk berpartisipasi aktif dalam gerakan politik. TurunTangan didukung oleh sebuah platform online yang beralamat di turuntangan.org. Ini adalah platform pertama berbasis gerakan relawan.
Platform
ini membantu relawan mencari, mengumpulkan, dan menggerakkan para sukarelawan
di lokasi di seluruh Indonesia atau berdasarkan keahlian masing-masing. Sistem
pengelolaan relawan ini juga didukung melalui e-mail dan SMS untuk mengundang
para sukarelawan aktif dalam pelatihan sukarelawan di berbagai daerah.
Berbeda
dengan gerakan lain, TurunTangan tak hanya sekadar mendorong Anies namun juga
menciptakan sebuah politik yang sehat. Dalam kampanye pilpres misalnya
TurunTangan terus mendorong agar masyarakat kritis dalam menyikapi pilihan yang
ada.
Gerakan
ini juga mendorong agar kampanye dilakukan secara sehat tanpa ada kampanye
hitam. Hal ini misalnya dilakukan oleh ‘TurunTangan’ wilayah Bandung yang
mengajak para simpatisan capres-cawapres di Pilpres 2014 melakukan kampanye
sehat.
Pasca
dinyatakan memenangkan pemilu presiden oleh KPU pada 22 Juli 2014. Pasangan
Jokowi-JK meminta Anies untuk menjadi salah satu staf deputi Rumah Transisi
Jokowi-JK. Rumah transisi tersebut ditujukan untuk menyiapkan kabinet sebelum
pengangkatan resmi Jokowi-JK sebagai capres dan cawapres.
Anies
menjadi staf deputi bersama Wakil Sekjen PDIP Hasto Kristianto, Sekretaris Tim
Pemenangan I Andi Widjajanto, dan Sekretaris Tim Pemenangan II Fasial Akbar.
Staf deputi ini diketuai oleh Rini M. Soemarno yang merupakan Menperindag era
pemerintahan Presiden Megawati.
Pada 2010 Anies Baswedan tergabung dalam Tim Verifikasi Fakta dan Hukum atau dikenal dengan Tim 8 yang diketuai Adnan Buyung Nasution untuk meneliti kasus dugaan kriminalisasi terhadap Bibit Samad Rianto dan Chandra M. Hamzah. Nama kedua pemimpin Komisi ini ramai dikaitkan dalam perseteruan Kepolisian versus KPK – yang populer dengan sebutan “Cicak versus Buaya” – ketika itu.
Pada
Februari 2013 Anies Baswedan diminta oleh KPK untuk memimpin Komite Etik KPK –
tim ad hoc bentukan pemimpin antirasuah itu. Tugas Komite ini adalah memeriksa
ihwal bocornya surat perintah penyidikan (sprindik) kasus korupsi proyek
Hambalang atas nama tersangka Anas Urbaningrum.
Dengan seabreg prestasi Anies Baswendan dalam bidang pendidikan, semoga memberikan angin segar untuk pendidikan Indonesia khsusnya, SD, SMP, dan SMA lima tahun kedepan.
Informasi yang akan saya sampaikan ini bisa jadi akan mengubah hidup anda 360 derajat seperti yang saya alami... Anda hanya perlu membaca uraian saya ini dengan cermat, pastikan saat membaca ini jangan ada "gangguan" sekecil apapun, karena peluang bisnis ini benar-benar mengagumkan! jangan sampai anda melewatkan info sekecil apapun! http://goo.gl/Yt0fOk
ReplyDelete------------------------------------------------------------------
Blog http://www.masa-dep4n.blogspot.com