Sunday, 26 October 2014

Ditangan Anies Baswedan Pendidikan Indonesia Akan Alami Masa Keemasan

Sosok Anies Baswendan yang ditunjuk Presiden Jokowi sebagai Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikbuddasmen) dalam 'Kabinet Kerja' yang diumumkan, Minggu (26/10), memberikan harapan pendidikan Indonesia mengalami masa keemasan.

Dengan berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri yang diraih oleh Rektor Universitas Paramadina tersebut, besar ekspektasi untuk melakukan terobosan melakukan revolusi kurikulum termasuk didalamnya pendidikan anti korupsi dan revolusi mental.

Dikutip dari Wikipedia, Anies Rasyid Baswedan, lahir di Kuningan, Jawa Barat, 7 Mei 1969. Cucu dari pejuang kemerdekaan, Abdurrahman Baswendan, ini menginisiasi gerakan Indonesia Mengajar. Ia menjadi rektor termuda pada tahun 2007 saat dilantik menjadi Rektor Universitas Paramadina.

Orang tuanya berasal dari kalangan akademis. Ayahnya, Drs. Rasyid Baswedan, dosen di Fakultas Ekonomi. Sementara, ibunya, Prof. Dr. Aliyah Rasyid, M.Pd. guru besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi, Universitas Negeri Yogyakarta.

Pada tanggal 11 Mei 1996, Anies menikah dengan Fery Farhati Ganis, sarjana psikologi dari Universitas Gadjah Mada. Isterinya merupakan alumni magister Northern Illinois University bidang Parenting Education. Anies dikaruniai empat orang anak: Mutiara Annisa, Mikail Azizi, Kaisar Hakam dan Ismail Hakim.

Anies mengenyam bangku sekolah pada usia 5 tahun di TK Masjid Syuhada. Menginjak usia enam tahun, Anies masuk ke SD Laboratori, Yogyakarta. Setelah lulus SD, Anies diterima di SMP Negeri 5 Yogyakarta.

Lulus SMP, Anies menempuh pendidikan di SMA Negeri 2 Yogyakarta. Anies pernah menjadi Ketua OSIS se-Indonesia pada tahun 1985. Pada tahun 1987, ia mengikuti program pertukaran pelajar AFS dan tinggal selama setahun di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat.

Sekembalinya ke Yogyakarta, Anies bergabung dengan program Tanah Merdeka di TVRI cabang Yogyakarta, dan mendapat peran sebagai pewawancara tetap tokoh-tokoh nasional.

Anies diterima di Fakultas Ekonomi,Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Anies menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa dan ikut membidani kelahiran kembali Senat Mahasiswa UGM setelah pembekuan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pada 1992, Anies membentuk Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sebagai lembaga eksekutif memosisikan senat sebagai lembaga legislatif yang disahkan oleh kongres pada tahun 1993. Masa kepemimpinannya, ditandai dengan gerakan berbasis riset, sebuah tanggapan atas tereksposnya kasus BPPC yang menyangkut putra Presiden Soeharto, Hutomo Mandala Putra.

Anies turut menginisiasi demonstrasi melawan penerapan Sistem Dana Sosial Berhadiah pada November 1993 di Yogyakarta. Pada tahun 1993, Anies mendapat beasiswa dari JAL Foundation untuk mengikuti kuliah musim panas di Sophia University, Tokyo dalam bidang kajian Asia. Beasiswa ini ia dapatkan, setelah memenangkan sebuah lomba menulis mengenai lingkungan.

Setelah lulus kuliah, Anies bekerja di Pusat Antar Universitas Studi Ekonomi UGM, sebelum mendapat beasiswa Fulbright dari AMINEF untuk melanjutkan kuliah masternya dalam bidang keamanan internasional dan kebijakan ekonomi di School of Public Affairs, University of Maryland, College Park pada tahun 1997.

Ia juga dianugerahi William P. Cole III Fellow di universitasnya, dan lulus pada bulan Desember 1998. Pada tahun 1999, setelah setelah lulus dari Maryland, Anies kembali kuliah dengan beasiswa dalam bidang ilmu politik di Northern Illionis University.

Saat itu, ia bekerja sebagai asisten peneliti di kantor Office of Research, Evaluation, and Policy Studies di kampusnya. Disertasinya doktoralnya yang berjudul Refional Autonomu and Patterns of Democracy in Indonesia menginvestigasi efek dari kebijakan desentralisasi  terhadap daya respon dan transparansi pemerintah daerah serta partisipasi publik, menggunakan data survei dari 177 kabupaten/ kota di Indonesia. Dia lulus pada tahun 2005.

Selesai mengambil kuliah doktor pada 2004, karena tidak memiliki uang untuk kembali ke tanah air, Anies sempat bekerja sebagai manajer riset di IPC, Inc. Chicago, sebuah asosiasi perusahaan elektronik sedunia. Kecintaannya pada tanah air membuatnya kembali ke Indonesia.

Ia kemudian bergabung dengan Kemitraan untuk Reformasi Tata Kelola Pemerintahan; sebuah lembaga non-profit yang fokus dengan reformasi birokrasi di wilayah Indonesia dengan menekankan kerjasama antara pemerintah dengan sektor sipil.

Ia kemudian menjadi direktur riset The Indonesian Institute. Ini merupakan lembaga penelitian kebijakan publik yang didirikan pada Oktober 2004 oleh aktivis dan intelektual muda yang dinamis. Kariernya di The Indonesian Institute tentu tak lepas dari latar belakang pendidikannya di bidang kebijakan publik.

Pada 15 Mei 2007, Anies Baswedan dilantik menjadi Rektor Universitas Paramdina menggantikan cendekiawan Muslim yang juga pendiri unversitas tersebut, Nurcholish Madjid atau Cak Nur. Anies menggagas rekrutmen anak-anak terbaik Indonesia dengan program Paramadina Fellowship atau beasiswa Paramadina. Beasiswa itu meliputi biaya kuliah, buku, dan biaya hidup.

Gebrakan lain yang dilakukan oleh Anies Baswedan adalah pengajaran anti korupsi di bangku kuliah. Hal ini didasari karena Anies menganggap bahwa salah satu persoalan bangsa ini adalah praktek korupsi. Karena itu ia berinisiatif membuat mata kuliah wajib anti korupsi  yang berisi kerangka teoritis sampai membuat laporan investigatif tentang praktik korupsi.

Anies Baswedan mendirikan Gerakan ‘TurunTangan’ sebagai sebuah ikhtiar mengajak semua orang terlibat melunasi janji kemerdekaan. ‘TurunTangan’ mengajak semua orang untuk ikut terlibat mengurus negeri ini dengan mendorong orang baik mengelola pemerintahan.

Gerakan ini didirikan Anies pada Agustus 2013 dengan semangat gerakan kerelawanan tanpa bayaran. Sampai Juli 2014, relawan yang berhasil dikumpulkan sebanyak 35.000 lebih relawan.

'TurunTangan' banyak bergerak di kegiatan sosial politik. Gerakan ini mendorong anak-anak muda di seluruh Indonesia untuk berpartisipasi aktif dalam gerakan politik. TurunTangan didukung oleh sebuah platform online yang beralamat di turuntangan.org. Ini adalah platform pertama berbasis gerakan relawan.

Platform ini membantu relawan mencari, mengumpulkan, dan menggerakkan para sukarelawan di lokasi di seluruh Indonesia atau berdasarkan keahlian masing-masing. Sistem pengelolaan relawan ini juga didukung melalui e-mail dan SMS untuk mengundang para sukarelawan aktif dalam pelatihan sukarelawan di berbagai daerah.

Berbeda dengan gerakan lain, TurunTangan tak hanya sekadar mendorong Anies namun juga menciptakan sebuah politik yang sehat. Dalam kampanye pilpres misalnya TurunTangan terus mendorong agar masyarakat kritis dalam menyikapi pilihan yang ada.

Gerakan ini juga mendorong agar kampanye dilakukan secara sehat tanpa ada kampanye hitam. Hal ini misalnya dilakukan oleh ‘TurunTangan’ wilayah Bandung yang mengajak para simpatisan capres-cawapres di Pilpres 2014 melakukan kampanye sehat.

Pasca dinyatakan memenangkan pemilu presiden oleh KPU pada 22 Juli 2014. Pasangan Jokowi-JK meminta Anies untuk menjadi salah satu staf deputi Rumah Transisi Jokowi-JK. Rumah transisi tersebut ditujukan untuk menyiapkan kabinet sebelum pengangkatan resmi Jokowi-JK sebagai capres dan cawapres.

Anies menjadi staf deputi bersama Wakil Sekjen PDIP Hasto Kristianto, Sekretaris Tim Pemenangan I Andi Widjajanto, dan Sekretaris Tim Pemenangan II Fasial Akbar. Staf deputi ini diketuai oleh Rini M. Soemarno yang merupakan Menperindag era pemerintahan Presiden Megawati.

Pada 2010 Anies Baswedan tergabung dalam Tim Verifikasi Fakta dan Hukum atau dikenal dengan Tim 8 yang diketuai Adnan Buyung Nasution untuk meneliti kasus dugaan kriminalisasi terhadap Bibit Samad Rianto dan Chandra M. Hamzah. Nama kedua pemimpin Komisi ini ramai dikaitkan dalam perseteruan Kepolisian versus KPK – yang populer dengan sebutan “Cicak versus Buaya” – ketika itu.

Pada Februari 2013 Anies Baswedan diminta oleh KPK untuk memimpin Komite Etik KPK – tim ad hoc bentukan pemimpin antirasuah itu. Tugas Komite ini adalah memeriksa ihwal bocornya surat perintah penyidikan (sprindik) kasus korupsi proyek Hambalang atas nama tersangka Anas Urbaningrum.

Dengan seabreg prestasi Anies Baswendan dalam bidang pendidikan, semoga memberikan angin segar untuk pendidikan Indonesia khsusnya, SD, SMP, dan SMA lima tahun kedepan.


1 komentar:

  1. Informasi yang akan saya sampaikan ini bisa jadi akan mengubah hidup anda 360 derajat seperti yang saya alami... Anda hanya perlu membaca uraian saya ini dengan cermat, pastikan saat membaca ini jangan ada "gangguan" sekecil apapun, karena peluang bisnis ini benar-benar mengagumkan! jangan sampai anda melewatkan info sekecil apapun! http://goo.gl/Yt0fOk
    ------------------------------------------------------------------
    Blog http://www.masa-dep4n.blogspot.com

    ReplyDelete