Calon menteri
yang akan menjadi pembantu Jokowi Dodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) rencananya akan diumumkan Minggu (26/10). Presiden sendiri sebenarnya memiliki waktu 14 hari untuk mengumumkan dan menetapkan
menteri, sejak dilantik pada 20 Oktober 2014 mendatang. Publik nampak sudah tak sabar menanti pengumuman calon menteri tersebut.
Salah satu
penyebab Presiden Jokowi menunda beberapa kali pengumuman menteri, karena
mencari pengganti terhadap calon menteri yang berpotensi terjerat korupsi yang
sebelumnya sudah diserahkan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Terobosan
Presiden Jokowi bermitra dengan KPK dalam menetapkan sosok para pembantunya,
ditanggapi beragam oleh pengamat politik di media. Kubu pertama menilai,
lambannya Jokowi mengumumkan menteri, bukan semata karena ada verifikasi KPK,
melainkan ada tarik ulur kepentingan partai politik (parpol) untuk memaksakan
kehendaknya sendiri.
Sementara,
kubu lain menyebut, tidak apa lamban menetapkan pengumuman menteri terpenting
pemerintahan kedepan terbebas dari penyakit akut yang bernama korupsi.
Bagi saya, Jokowi dan kabinetnya, apapun bentuknya nanti, bisa jadi tidak memuaskan pasangan Jokowi-JK sendiri. Saya yakin dan percaya, jika formula kabinet hanya berdasarkan kehendak Jokowi-JK nama-nama menteri sudah selesai. Namun, keduanya mencoba mengakomodir berbagai kepentingan, terutama dari partai politik pengusung. Wajar juga jika sang presiden dan wakil presiden merasakan ‘sakitnya itu disini’.
Tinggal satu
garansi Jokowi-JK kepada publik. Bisakah para menteri yang akan bergabung dalam
Kabinet Indonesia Hebat (KIH) ini, mampu bekerja sesuai dengan harapan rakyat?
Atau malah menodai usaha perbaikan yang tengah dilakukan oleh mantan Walikota
Solo dan Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) tersebut?
Membedah pembentukan menteri era Jokowi-JK, sejak awal ada penegasan yang disampaikan oleh Jokowi bahwa, kalangan profesional akan mendominasi jajaran menteri. Menteri yang berasal dari partai politik (parpol) kinerjanya memang kinerjanya kurang memuaskan.
Berbeda
dengan menteri yang berasal dari profesional. Sebut saja Chairul Tanjung dan
Dahlan Iskan di era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Keduanya dari kalangan
profesional. Terbukti, kinerja keduanya menawan dan banyak menuai pujian. Beda
180 derajat dengan menteri dari partai yang masih jauh dari harapan publik. (Baca juga : Pengusaha dan Pemerintahan Baru Jokowi-JK)
Lalu, apakah
menteri era Jokowi-JK yang berasal dari kalangan profesional akan menunjukan
taring yang sama? Masih butuh waktu. Minimal dalam 100 hari mereka harus bisa
melakukan terbobosan signifikan untuk perbaikan Indonesia kedepan.
Hal lain yang
masih harus ditunggu adalah, benarkan Jokowi-JK sudah memberlakukan cleaning house policy dalam pembentukan
menterinya? Atau jangan-jangan hanya bersih diluar, sementara dalamnya banyak
noda yang akan mengotori perjalanan pemerintahan kedepan.
0 komentar:
Post a Comment