Rahim
Partai Golongan Karya (Golkar) adalah tumbuh dan berkembang dalam lingkungan
pemerintahan. Saat era Soeharto, Golkar menjadi anak emas selama 32 tahun.
Politik Golkar saat itu mengakar sampai ke desa. Dalam perjalananan politiknya
sejak Soeharto lengser, Golkar mengalami fluktuasi hebat. Polemik dan dinamika
internal, menjadi titik balik partai berlambang beringin.
Saat
ini, Golkar secara struktural tak sesolid dulu. Dibeberapa daerah, Golkar
justru hancur sampai ke titik nadir. Dualisme kepemimpinan dan hengkangnya
beberapa kader militan, menjadikan Golkar tak memiliki akar kuat dan membumi di
desa.
Di Kabupaten Musirawas, Sumatera Selatan, misalkan, Golkar mengalami konflik hebat sampai memengaruhi merosotnya jumlah DPRD. Padahal daerah tersebut, bupatinya dipimpin oleh fungsionaris DPP Golkar Ridwan Mukti. Sudah dua kali pemilihan langsung, partai yang dipimpin oleh Megawati Soekarno Putri malah yang menjadi juaranya.
Tak
hanya itu, di beberapa daerah, kader Golkar juga banyak terlibat skandal
korupsi. Gubernur Riau yang di tangkap KPK, secara langsung atau tidak akan
memengaruhi citra Golkar di daerah tersebut.
Golkar
juga pernah ditempa kasus besar. Misalkan, saat ketua umumnya Akbar Tanjung, citra
Golkar tercoreng oleh kasus Bulogate. Tak kunjung sudah, Golkar pun cita
rasanya hambar, saat bencana Lapindo meledak di Jawa Timur dan dikait-kaitkan
dengan ketua umum Golkar, Aburizal Bakrie.
Masa-masa
sulit yang dialami Golkar, ironisnya tergolong klasik dan sangat tidak
iedologis. Beda halnya dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P)
yang masa-masa sulitnya tertindas oleh rezim dan pembusukan oleh partai
penguasa. Dalam karakter petarung memang,
Golkar masih jauh dewasa dibandingkan dengan PDI Perjuangan.
Kini, Golkar memiliki momentum untuk mengembalikan keyaaan saat pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) pada 2015 mendatang. Munas kali ini sejatinya bukan hanya seremonial pergantian kepemimpinan, melainkan harus bisa melahirkan ketua umum partai, yang bisa melakukan reformasi besar-besaran ditubuh partai Golkar sendiri.
Jika
masa depan Golkar ingin kembali seperti eranya Soeharto, ada tiga hal penting
yang harus dilakukan oleh Ketua Umum Golkar pascamunas 2015 mendatang.
Pertama, Kader Golkar
Menjadi Presiden
Salah
satu nazar politik yang belum terpenuhi oleh Golkar selama ini adalah,
mengantarkan ketua umum partai ataupun kader terbaiknya menjadi presiden
Indonesia. Prestasi terbaik yang dicicipi Golkar adalah mengantarkan Jusuf
Kalla sebagai wakil presiden mendampingi presiden Susilo Bambang Yudhoyono
(SBY).
Dalam konteks kader yang menjadi presiden, Golkar sudah kalah 2-0 dari PDI-P yang sudah dua kali mengantarkan kadernya sebagai presiden. Pertama, Megawati Soekarno Putri yang menjadi presiden karena ‘kecelakaan’ politik dengan lengsernya Abdurrahman Wahid. Kedua, adalah Jokowi Dodo yang sukses menjadi idola warga banga menjadi presiden untuk periode 2014-2019.
Lima
tahun kedepan, tugas ketua umum Golkar memang sangat berat. Setidaknya harus
bisa mengalahkan Jokowi yang saat ini sudah sangat populer dan menjadi sulit
untuk ditandingi selama lima tahun kedepan.
Belum
lagi, popularitas Gerindra yang menokohkan Prabowo Subianto bisa jadi akan
habis-habiskan dalam pilpres 2019 mendatang. Apalagi, dari segi kapasitas
politik, Golkar tidak bisa berperan penting saat Aburizal minimal bisa
cawapresnya Prabowo.
Artinya,
Golkar juga sudah kalah dari Gerindra yang pada saat pemilu 2014 masuk dalam
nomor urut 3. Padahal, Golkar yang mendapatkan suara nasional nomor 2, bisa
mengantarkan ketua umumnya menjadi presiden. Ini salah satu kesalahan fatal
Golkar eranya Abirizal.
Kedua, Golkar
Mengakar Sampai ke Desa
Tagline
‘Suara Golkar Suara Rakyat’ untuk saat ini (mohon maap) hanya sebuah anomali
dan kontraproduktif. Dengan banyaknya konflik dan polemik kepemimpinan, secara
tidak langsung sudah memengaruhi soliditas dan kolektivitas Golkar sebagai
partai besar.
Padahal, tagline itu jelas, Golkar ingin mengembalikan kejayaan masa lalunya. Tapi mengapa saat eranya Aburizal, ‘Suara Golkar Suara Rakyat’ tidak membumi.
Ketiga, Mengakomodir
Kader Muda Golkar
Kader
muda Golkar sudah saatnya memberukan porsi kepada kader mudanya. Publik tahu,
kader muda Golkar yang punya kapasitas justru diasingkan oleh Aburizal.
Bahkan,
beberapa kader muda yang ngetop sekarang kadar ideologisnya belum senyawa
dengan Golkar justru mendapatkan posisi empuk. Sebut misalkan, Tantowi Yahya
dan Nurul Arifin yang menjadi fungsionaris karena menjadi anggota DPR. Ideologi
mereka berdua adalah ideologi selebritis dan baru menuju ke ideologis Golkar. (Baca Juga : Selebritis, Jalan Kaki dan Jokowi)
Ketiga
hal diatas, memang belum memadai menjadikan masa depan Golkar yang cerah dalam
peta politik Indonesia. Namun, setidaknya Golkar bisa memulihkan nama baiknya
dan beranjak bangkit menuju kejayaannya pada saat sera Soeharto.
0 komentar:
Post a Comment